Tel: (021) 7579 1378      Email: sekr-ptrrb@bppt.go.id

Secara umum, geomorfologi terbentuk oleh perbukitan di sedang sampai terjal. Di bagian lereng dan bawah perbukitan ini dipergunakan sebagai tempat pemukiman penduduk dan perkebunan. Kemiringan lereng yang diamati pada Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kec. Pulung merupakan tebing sangat terjal (daerah awal terjadinya longsor) sekitar 70-80° dari puncak mahkota longsor. Kemiringan lereng di bawahnya lebih landai lagi yang digunakan untuk permukiman dan perladangan. Ketinggian mahkota longsor adalah 990-1010 meter di atas permukaan laut (dpal). Jarak antara mahkota longsor dengan titik akhir terpanjang ke arah barat laut sekitar 1500 meter. Arah dari posisi tengah mahkota longsor ke arah selatan dan berbelok ke arah timur.

 

Dari aspek jenis tanah maka longsor yang terjadi di Desa Banaran dapat dijelaskan sebagai berikut. Berdasarkan peta landsystem skala 1 : 250.000, serta lokasi longsor Desa Banaran Kecamatan Pulung  Kabupaten  Ponorogo,  jenis  tanahnya  adalah  dari great  group  asosiasi Humytropepts, Dystandepts  dan Hydrandepts. Tanah ini tergolong tanah yang masih muda belum berkembang lebih lanjut, sehingga tanah ini tergolong cukup subur. Sifat sifat tanah ini pada permukaan, kandungan bahan organik tinggi, tekstur lempung berdebu hingga lempung liat berpasir / geluh berdebu, struktur remah, konsistensi gembur hingga teguh.

Pola pertanaman tegalan yaitu dengan tanaman jahe. Pada pola pertanian tegalan beberapa petakan lahan  disisipkan/diselingi juga pertanaman kayu/pohon  seperti  secara kebanyakan tanaman sengon. Beberapa jenis pertanaman kayu juga terdapat tanaman Jabon seperti yang terdapat di sebelah timur kawasan terdampak.

Berdasarkan data yang diperoleh oleh tim garda bencana BPPT.  Telah terjadi hujan dengan intensitas sedang beberapa hari sebelum terjadinya bencana. Dapat dilihat pada gambar 1 bahwa hujan tertinggi terjadi pada 25 maret 2017 yaitu dengan curah hujan harian sebesar 21.7 mm dan terus menurun. Bahkan dua sampai tiga hari menjelang terjadinya longsor tidak ada intensitas hujan yang cukup tinggi. Dari data yang ada sangat sulit mengatakan bahwa curah hujan 25 Maret sd 1 April mempengaruhi kejadian longsor di desa banaran. Durasi dari hujan memang cukup lama namun intensitasnya tergolong rendah. Data yang ada perlu ditambah minimal 1 bulan sebelumnya.

Tim garda bencana BPPT memetakan potensi risiko pada daerah sekitar berdasarkan data yang diperoleh di lapangan. Hasil peta risiko longsor dapat dilihat pada gambar dibawah, permukiman dengan risiko longsor tinggi diberi simbol berwarna merah dan berada persis di sebelah utara lokasi longsor dan sejajar dengan lokasi longsor. Sedangkan permukiman dengan risiko longsor sedang diberi simbol warna oranye dan lokasinya sebagian besar berada di timur laut lokasi longsor. Berikut ini foto kondisi permukiman permukiman tersebut.

 

 

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dari hasil pembahasan di atas, bisa disimpulkan dan direkomendasikan sebagai berikut:

  • Permukiman yang berada di sekitar lokasi longsor termasuk kawasan yang mempunyai risiko bahaya tanah longsor yang tinggi dan sedang.
  • Beberapa permukiman yang mempunyai risiko tinggi dan sedang terhadap longsor, perlu dibangun kesiapsiagaan masyarakat, pengungsian warga, pemasangan sistem peringatan dini longsor serta untuk jangka panjang adalah relokasi sesuai aturan yang berlaku jika memang kondisi semakin parah.
  • Pertanian lahan kering pada lereng-lereng sebaiknya menggunakan pola agroforestry.
  • Rekomendasi untuk subdas yang mencakup permukiman berisiko longsor tersebut adalah konservasi lahan seperti pengembalian fungsi lahan sebagai hutan konservasi atau hutan lindung seperti sebelumnya.
  • Potensi bencana tanah longsor yang bersumber pada area di sekitar lokasi longsor masih tinggi, sehingga masyarakat tetap waspada terhadap potensi longsor susulan.
  • Rekahan-rekahan baru mulai terbentuk sehingga nantinya akan mempermudah kejenuhan tanah serta melicinkan bidang gelincir  antara batuan dasar dengan tanah  (soil)  hasil pelapukannya,  perlu dilakukan penutupan pada rekahan tersebut.
  • Material longsoran yang sangat tebal, apabila terkena air dari hujan yang tinggi akan mudah untuk menjadi lumpur yang bisa bergerak karena perbedaan morfologi yang tinggi.
  • Pembendungan dari material longsor juga perlu diantisipasi supaya tidak membentuk bendung alami yang bisa menyebabkan terjadinya banjir bandang.

 

 

 

Statistik Pengunjung

6.png5.png2.png1.png7.png
Today22
Yesterday58
This week22
This month1953

Hubungi Kami

Gedung 820 Teknologi Sistem Kebumian (Geostech), Kawasan Puspiptek, Tangerang Selatan 15314

Telp/Fax (021) 75791378